Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Februari 2008

Hindari Stroke dengan Peduli Global Warming

Penelitian akan efek dari Global Warming, telah menambah daftar efek negatif. Faktanya dalam penelitian ini terungkap bahwa Global Warming dapat mengakibatkan kerusakan hati. Hmmm... How to ?

Pemanasan Global atau yang lebih dikenal dengan Global Warming memiliki bermacam efek negatif. Dikutip dari DetikHot Health24, Jum’at (23 November 2007) Cizao Ren dari Departemen Epidomologi Fakultas Kedokteran Universitas California, Amerika Serikat melakukan sebuah penelitian dengan mengambil sampel dari 100 juta orang yang tinggal di 95 daerah yang berbeda di seluruh Amerika Serikat.

Hasilnya pun mengaggetkan dan tak diduga-duga. Pada periode bulan Juni sampai September, banyak orang yang meninggal akibat penyakit jantung dan penyakit dipercaya disebabkan dari akibat efek dari temperatur bumi yang makin lama makin memanas. Apalagi kalau bukan karena Global Warming dan menipisnya lapisan ozon.

Makin tipis lapisan ozon, maka temperatur bumi akan semakin naik. Artinya udara memanas. Begitu juga dengan Global Warming makin banyak karbon dioksida makin panas yang diserap oleh molekul itu, sehingga temperatur bumi naik. Sampai tahun 2007 kemarin, angka kematian yang disebabkan oleh stroke dan kerusakan hati akibat dari Global Warming meningkat 8 persen.

Masalahnya lagi lapisan ozon kian detik kian menipis, tingkat polusi makin menit makin tinggi serta penebangan hutan yang makin jam makin tak terkendali. Hal ini akan berakibat buruk bagi kesehatan, baik kesehatan untuk manusia itu sendiri maupun untuk makhluk lainnya yang ada di bumi.

Jika ini terus berlanjut (Global Warming dan menipisnya lapisan ozon), maka bumi sekali lagi akan rentan terhadap penyakit baru dan lebih heboh. Efeknya pasti dirasakan juga oleh manusia. Efek yang benar-benar negatif dan tak tanggung-tanggung. Sungguh menyedihkan !

Dalami di :

DetikHot

Read More...

Minggu, 03 Februari 2008

Indonesia Masuk di Guiness Book of Record

Apakah kejadian ini patut dibanggakan ? Beri jawaban sendiri.

Indonesia masuk Guinness book of Record sebagai negara yang mengalami penurunan jumlah pohon secara cepat di dunia. Bagaimana ?

Cuma satu hal positif yang dapat diterima dari kejadian ini “Indonesia dikenal dunia”, tapi sebagai perusak.

Penduduk Indonesia dan negara bagian lain sungguh berdosa besar. Bukan karena ini wilayahku atau pohonku, jadi dapat melakukan seenaknya saja. Tapi semua ini milik semua. Pohon tersebut ditebang, berarti sarana pengambil karbon dioksida dan penghasil oksigen (dua fungsi sekaligus) telah berkurang. Semua yang ada di dunia ini bukan milik siapapun, bukan milik Indonesia atau negara lain, tapi hanya milik Allah SWT semata.

Kita pantas menghirup udara jika kita menanam pohon. Kita harus membayarnya dengan menanam pohon ! Dalam sehari kita butuh 0,6-2 kg oksigen, padahal 1 pohon besar dapat menghasilkan sebanyak 1,2 kg oksigen. Kalau kita ambil kebutuhan manusia terhadap oksigen yang paling sedikit aja, yaitu; 0,6 kg, maka 1 pohon dapat digunakan fungsinya untuk 2 orang. Oksigen ini belum berebut dengan hewan, untuk menyalakan api, untuk memproduksi produk dan untuk kebutuhan sehari-hari belum lagi bereaksi dengan partikel lain. Berarti Indonesia harus punya sangat minimal sekali 100 juta pohon besar. Apakah Indonesia masih memilikinya ?

Selain mengeluarkan oksigen tumbuhan juga dapat menyerap. Dalam 1 hektar daun-daun hijau dapat menyerap 8 kg karbon dioksida (Tome, 2005). Setara dengan karbon dioksida yang dikeluarkan manusia sebanyak 200 orang. Waow ! Pohon ternyata sangat bermanfaat !

Dalami di :

Penghijauan

Read More...

Pasuruan Menangis

Banjir yang melanda kota Pasuruan pada akhir bulan Januari itu merupakan banjir yang paling besar yang pernah dialami oleh warga Pasuruan. Banjir hingga mendekati dua meter lebih untuk daerah kecamatan Bugul Kidul. Bahkan di beberapa tempat yang lebih rendah dari jalan mencapai 3 meter.

Banjir yang benar-benar mendadak ini salah satunya penyebabnya dikarenakan luapan Sungai Welang, Gembong, dan Rejoso yang mengalir dengan cepat menuju kota Pasuruan. Akibatnya banjir tak terelakkan.

Luapan air di tiga sungai ini terjadi karena Taman Hutan Rakyat R. Soerjo dan pegunungan di Pasuruan bagian timur rusak. Akibatnya, daerah resapan air ini tidak mampu menampung air saat hujan turun. Hutan yang rusak itu tak bisa lagi menahan laju air. “Ini yang menyebabkan banjir,” kata Gubernur Jawa Timur Imam Utomo di Pasuruan kemarin.

Persoalannya ada pada penebangan pohon. Daya pohon untuk menahan air agar tidak cepat mengalir telah berkurang karena penebangan hutan pada dekade ini. Bukan hanya itu penebangan hutan yang terjadi juga menyumbangkan untuk mempercepat terjadinya Global Warming. Akhirnya kadar karbon dioksida meningkat dan bukan hanya kutub-kutub bumi saja yang meleleh menyatu dengan air laut. Tapi juga Alaska dan Greenland. Pulau yang tenggelam pun akan terjadi jika hal ini terus dibiarkan. Apalagi Indonesia yang penuh dengan banyak pulau.

Banjir yang melanda Pasuruan pada Rabu malam lalu telah meresahkan masyarakat. Lalu lintas pun terhambat. Ketika Anda dari Bangil keluar beberapa kilometer jalan sudah di tutup untuk menuju Pasuruan. Begitu juga dengan dari Purwosari ke Pasuruan. Kota Pasuruan seperti kota yang terisolir tak bisa dilewati dari arah manapun.

Kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum ini menyebabkan kerugian hingga Rp 5,8 miliar. Ini pun masih bersifat sementara.

Read More...

Kamis, 31 Januari 2008

Iklim Global

Secara langsung maupun tidak langsung, angin dan awan di permukaan bumi terkait dengan matahari. Panas dari matahari memproduksi perbedaan temperatur, yang mengarahkan pada perbedaan temperatur. Dan angin selalu bergerak dari tekanan tinggi ke rendah.

Laut menjadi tempat penyimpanan panas matahari, dan arus laut global menggerakkan energi yang tersimpan tersebut, menyebabkan adanya iklim global, dari angin sepoi-sepoi sampai adanya badai lautan. La-nina, el-nino, merupakan salah satu fenomena musiman, yang selalu terjadi setiap tahun, seiring dengan perubahan bumi mengelilingi matahari. Demikian juga dengan interaksi harian antara udara tropis yang hangat-lembab dan udara dingin arktik yang menyebabkan adanya tornado di selatan dan barat-tengah amerika, dan kadang-kadang mengarah ke timur laut. Pergeseran kutub bumi dalam mengelilingi matahari juga merupakan penyebab terjadinya musim.

Studi mendalam juga dilakukan untuk menunjukkan adanya hubungan antara siklus matahari dengan tingkat terjadinya awan. Seperti juga yang telah dilakukan LAPAN, mengenai tingkat terjadinya awan dengan silus 11-tahunan matahari.

Studi mengenai perubahan kecerlangan matahari, memunculkan dugaan adanya kaitan dengan pemanasan global. Meskipun masih lebih dipercaya bahwa pemanasan global lebih disebabkan karena peningkatan kadar karbon dioksida di bumi, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa matahari-pun memberikan sumbangan pada pemanasan global. Ketika siklus matahari menuju maksimum, matahari menjadi lebih cerlang, terdapat banyak bukti yang mendukung hubungan antara kecerlangan dan tingkat ‘kehangatan’ global. Hubungan ini tidak hanya untuk siklus 11-tahun-an, tetap untuk periode yang lebih panjang dari aktivitas tinggi dan rendah matahari.

Studi cincin pohon dan es glasial masa lalu menjadi petunjuk temperatur global masa lalu, dan dicoba dicari kaitannya dengan siklus matahari dimasa lalu. Terutama, (kembali) pada jaman es kecil, menjadi petunjuk yang sangat berharga mengenai kaitan tersebut. Aktivitas matahari ternyata cukup tinggi sebelum abad ke-13. Meskipun masih menjadi perdebatan mengenai total keluaran matahari apakah cukup untuk mempengaruhi secara kuat iklim di bumi, tetapi tidak dapat disangkal hubungan tersebut memang ada.

Semburan angin matahari dalam bentuk radiasi, berarti juga adanya semburan proton. Ketika terjadi badai, proton membombardir atmosfer atas, memecah molekul gas seperti nitrogen dan uap air. Ketika terbebaskan, atom-atom tersebut bereaksi dengan molekul ozon dan memecah-nya menjadi unsur yang berbeda. Studi menggunakan satelit menunjukkan bahwa efek tersebut memang terjadi, meskipun kecil tetapi terukur. Dengan demikian, matahari memberikan pengaruh pada perubahan lubang ozon di atmosfer bumi.

Diambil dari LangitSelatan.com

Read More...

Bumi Tidak Akan Hancur karena Global Warming !

Bumi memang benar tidak akan hancur hanya karena Global Warming, cuma makhluk yang di dalamnya aja yang musnah. Jika Global Warming terjadi, paling parah bumi akan mengalami panas yang luar biasa, dan semua benda akan panas, baik dalam bentuk padatan, cairan maupun gas. Dan semua benda itu akan mengeluarkan uap yang berupa asap (baca: awan) yang mana kemudian turun hujan dan pada akhirnya pemulihan Bumi terjadi seperti penciptaan Bumi. Apakah manusia akan muncul kembali ?

Tak pasti ! Pertama-tama akan muncul makhluk bersel satu terlebih dahulu yang beda dengan sebelumnya kemudia makhluk laut dan akhirnya makhluk darat tercipta. Tak akan diketahui apakah manusia akan muncul kembali ? Jika tercipta kembali pasti dalam bentuk yang lebih buruk. Karena tersusun dari bahan-bahan buruk yang diciptakan oleh manusia pada generasi sekarang. Jadi kayak makhluk asing ?

Lantas Bumi hancur pada keadaan yang bagaimana ? Bumi akan mengalami kehancuran jika :

  1. Bumi, planet-planet, dan seluruh benda luar angkasa keluar dari orbit yang akhirnya terjadilah saling tarik-menarik akibat dari gaya gravitasi yang dimiliki setiap benda luar angkasa. Akhirnya tabrakan tak terhindari. Itulah Bumi akan hancur hanya tinggal bongkahan-bongkahan.
  2. Atau kemungkinan kedua, seluruh lelehan panas dari perut Bumi keluar dan akhirnya seluruh lelehan tersebut menutupi seluruh permukaan Bumi. Hanya tinggal menunggu waktu, jika Bumi sudah tidak kuat lagi untuk menahan, maka Bumi tiba-tiba meledak.

Read More...

Mengubah Bumi

Pada dasarnya, perubahan global akan datang dari 5 milyar lebih individu yang tinggal di planet ini. Menggunakan lebih sedikit kertas, logam, dan plastik... menumbuhkan dan membeli makanan bebas pestisida... menanam pepohonan... melindungi sumber air... menggunakan barang-barang yang lebih awet... mendaur-ulang dan membeli produk-produk daur ulang... mempunyai anak lebih sedikit... dan mendorong para pemimpin kita membuat kebijakan-kebijakan yang lebih berkesinambungan : semua ini adalah unsur-unsur perubahan global. (Larry Gonick & Alice Outwater dalam buku Kartun Lingkungan)

5 milyar individu berarti sekitar 5/6 penduduk dunia. Jika semua negara melakukan hal ini, maka Indonesia mempunyai beban sekitar

5/6*200.000.000 = 166.666.667 (dibulatkan) individu

Apakah masyarakat Indonesia akan sadar ?

Read More...

Jumat, 25 Januari 2008

Greenland Meleleh


 Credit: NASA/Robert Simmon and Marit Jentoft-Nilsen. Foto satelit yang menunjukkan jumlah hari terjadinya proses pelelehan di tahun 2006. Warna biru gelap menunjukkan area yang memiliki hari pelelehan terbesar.



Tahun 2006, Greenland mengalami hari-hari mencairnya salju pada ketinggian yang lebih tinggi dibanding ketinggian rata-rata selama 18 tahun. Hasil pengamatan harian menunjukkan mencairnya salju di lapisan es Greenland mengalami peningkatan setiap harinya.

Monitoring terhadap pelelehan saju di lapisan es Greenland secara harian dilakukan dengan Special Sensor Microwave Imaging radiometer (SSM/I) yang berada di pesawat ruang angkasa Defense Meteorological Satellite Program. Sensor akan mengukur sinyal elektromagnetik yang dipancarkan lapisan es dan mendeteksi lelehan salju yang terjadi lebih dari 10 hari lebih lama dari rata-rata yang terjadi pada area tertentu di Greenland.

Dengan adanya hasil pengamatan satelit secara periodik memberikan data dan informasi yang akan membantu para peneliti untuk mengetahui kecepatan alir glacier, banyaknya air dari salju yang mencair dan bergabung dengan lautan disekitarnya, juga untuk mengetahui seberapa banyak radiasi Matahari yang akan dipantulkan kembali ke atmosfer.

Jumlah hari dimana terjadi pelelehan di tahun 2006 berada di atas rata-rata proses pelelehan di tahun 1988-2005. Area merah gelap mingindikasikan anomali jumlah hari yang berada di atas rata-rata.  Credit: NASA/Robert Simmon and Marit Jentoft-Nilsen







Salju kering dan basah memang terlihat sama jika dilihat untuk pertama kalinya. Tapi salju yang basah dan salju yang mengalami pembekuan kembali, memiliki tingkat penyerapan radiasi sinar Matahari yang lebih tinggi, dan hanya memantulkan 50-60 persen ke atmosfer. Sedangkan salju kering, memantulkan kembali 85 % radiasi Matahari. Dengan kata lain, salju yang meleleh akan menyerap 3-4 kali energi yang sama dibanding salju kering. Ini tentu akan memberi pengaruh yang besar pada persediaan energi di Bumi.

Mencairnya salju di Greenland memberi pengaruh yang sangat besar terhadap luas lapisan es yang terus berkurang dan terhadap tinggi dan dalam lautan diseluruh dunia. Sebagian air yang dihasilkan dari salju yang mencair juga akan mengalir kedalam glacier melalui patahan-patahan dan alur lubang vertikal (moulin), kemudian mencapai lapisan batuan dibawahnya dan melubrikasi (meminyaki, mencairkan) lapisan es diatasnya.

Pengamatan dan studi yang dilakukan sebelumnya oleh Jay Zwally dan Waleed Abdalati dari NASA Goddard menunjukkan, air yang mencair pada musim panas pada dasar lapisan es bisa meningkatkan gerak es dan menyebabkan terjadinya peningkatan level lautan (tinggi dan dalamnya) dengan sangat cepat. Fenomena ini akan mempercepat terjadinya pemanasan global.

 Gambar skematik permukaan glacial yang mengilustrasikan bagaimana moulins mentransport air ke dasar glacier. credit : NASA.






sumber : NASA

Diambil dari LangitSelatan.com


Read More...